Mengenal Ayam Broiler dan Potensi Produksinya

Kita pernah membahas ayam petelur dan kita juga telah mengetahui betapa luasnya peluang bisnis dengan Beternak Ayam Petelur. Nah, kali ini kita akan juga akan membahas ayam tetapi dari ras yang berbeda. Yap, kali ini kita akan membahas ayam broiler atau juga disebut ayam pedaging yang biasa kita makan dagingnya sehari-hari. Sebelum kita mengenal lebih jauh ayam broiler ini, mari kita telisik terlebih dahulu sejarah perunggasan di bawah ini.

  Sejarah Perunggasan
Sebelum krisis ekonomi tahun 1998 melanda Indonesia, total konsumsi daging masyarakat Indonesia sebanyak 1,2 juta ton per tahun, 34,92% diantaranya atau sebanyak 419.000 ton merupakan daging sapi dan kerbau. Pada saat itu produksi daging sapi dan kerbau Indonesia hanya mencapai 380.000 ton sehingga Indonesia masih harus mengimpor sebanyak 30.000 ton. Impor ini sempat terhenti karena selama krisis ekonomi nilai kurs valuta asing sangat tinggi dan karenanya harga barang impor menjadi sangat mahal. Untuk mencukupi kebutuhan konsumsi terpaksa sapi dan kerbau dipotong melebihi kapasitas atau jumlah anak sehingga populasinya menurun tajam.

Pada tahun 2003 jumlah ternak besar sapi dan kerbau tinggal 12,8 juta ekor yang terdiri dari 10,4 juta ekor sapi dan 2,4 ekor kerbau titik penurunan populasi ternak sapi dan kerbau ini menunjukkan pentingnya upaya upaya pemulihan untuk meningkatkan kembali populasi ternak besar tersebut. Hal ini seharusnya diupayakan tanpa meningkatkan impor daging dari luar negeri karena kurs dolar tinggi.

Hal ini menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi peternak unggas untuk menyediakan ayam pedaging atau broiler sebagai jaring subtitusi titik peluang ini merupakan suatu keharusan bila ingin peternakan sapi dan kerbau Indonesia di selamatkan dari kehancuran nya.

Baca Juga Keuntungan Yang Kamu Dapatkan Dari Bisnis Ayam Petelur

Rendahnya konsumsi protein asal ternak masyarakat Indonesia ini merupakan salah satu faktor yang ikut mendorong perlunya pengembangan peternakan di Indonesia termasuk pengembangan peternakan ayam pedaging atau broiler.

Untuk dapat mendorong para peternak mengembangkan usaha ayam pedaging nya perlu diketahui variabel-variabel yang harus menerapkan pertimbangan dalam rangka menyediakan daging ayam untuk mencukupi permintaan pasar.

  Mengenal Usaha Ternak Ayam Broiler
Perkembangan perunggasan selalu bergejolak setiap saat. Hal ini bisa dilihat dari harga produk perunggasan yang selalu naik turun bahkan tidak hanya mingguan tetapi sampai harga harian. Naik turunnya harga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan dan biaya untuk memproduksi produk perunggasan itu sendiri.

Oleh karena itu, usaha perunggasan dikategorikan sebagai usaha berikut tinggi titik pelaku usaha perunggasan terutama pada ayam broiler sebagian besar adalah perusahaan swasta, sehingga dalam perkembangannya tidak diperlukan lagi campur tangan dari pemerintah titik namun pemerintah tetap saja berkewajiban membantu untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan sehingga tidak terjadi gejolak supply maupun permintaan.

Realita yang dapat kita temui adalah daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan dalam pemenuhan gizi protein hewani masih rendah bahkan kalah dengan gaya hidup masyarakat yang sangat konsumtif. Sebenarnya dalam hal peningkatan daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan tidak hanya dengan menekan harga produk tersebut akan tetapi perlu adanya peningkatan kampanye untuk konsumsi produk perunggasan.

Hal ini dipandang perlu untuk dilakukan oleh produsen perunggasan dalam peningkatan daya serap daging dan telur ayam yang merupakan sumber gizi paling terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dengan kampanye yang dilakukan secara terus-menerus di harapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi yang bersumber dari protein hewani.

  Potensi Produksi Ayam Broiler
Kondisi perunggasan tidak terlepas dari beberapa supplier bibit ayam ras DOC (Day Out Chick/ayam umur sehari) broiler yang diproduksi oleh para pembibit. Gambaran potensi produksi bibit ayam doc broiler pada triwulan kedua ini adalah produksi bibit ayam ras declare pada triwulan ke-2 tahun 2018 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu dari produksi sebanyak 24,1 juta ekor per minggu menjadi 8,2 juta ekor per minggu atau meningkat sebesar 17% peningkatan produksi bibit ayam ras doc broiler pada triwulan ke-2 tahun 2018 diperkirakan merupakan sikap optimis para pengusaha karena melihat hasil produksinya terus meningkat mulai bulan April sampai dengan Juni 2018 momen libur anak sekolah dan meningkatkan permintaan di bulan Juni sampai dengan bulan Juli akibat banyaknya orang yang mengadakan pesta mendorong para pengusaha untuk meningkatkan produksi dengan harapan permintaan akan meningkat
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami Kuy....