Budidaya Hidroponik di Daerah Perkotaan dan Segmen Pasarnya

Bertani di daerah perkotaan, tentu kata tersebut sedikit aneh jika kita ucapkan. Tak heran memang melihat daerah perkotaan yang terkenal dengan sebutan daerah modern, hal ini tidak lain disebakan oleh kelengkapan fasilitas yang tersedia disana. Selain itu, kota juga sering dijuluki tempat yang sempit, tak jarang masyarakat perkotaan hanya memiliki beberapa petak tanah untuk dijadikan tempat tinggal. Namun keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk bertani jika kita tau tekniknya. Bahkan bertani di daerah perkotaan akan menjadi sangat menjanjikan hasil yang besar jika kita pandai memanfaatkan peluang.

Salah satu teknik yang sangat tepat yang dapat kamu terapkan untuk bertani di daerah perkotaan adalah budidaya hidroponik. Kenapa hidroponik? Tidak lain karena budidaya dengan menggunakan metode hidroponik tidaklah memakan banyak ruang. Dengan pengaturan yang tepat kamu bahkan bisa bertani dengan gaya vertikal. Menurut Lonardy (2006), penggunaan sistem hidroponik tidak mengenal musim dan tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah untuk menghasilkan produktivitas yang sama. Teknologi hidroponik mengharuskan kemampuan khusus penggunanya dalam pengoperasian dan keuntungan menggunakan sistem ini memungkinkan kontrol terhadap tanaman lebih baik

Hidroponik Vertikultur

Hidroponik Vertikultur atau sering disebut sistem tower merupakan tipe hidroponik yang sangat cocok diterapkan di lahan yang sempit seperti di apartemen atau rumah kos. 

Hidroponik vertikultur
Sistem Hidroponik Vertikultur


Vertikultur adalah sistem tanam secar bertingkat, dimana kita dapat memanfaatkan botol-botol atau barang bekas yang ada disekitar kita. Untuk mencukupi kebutuhan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman pada sistem tanam hidroponik vertikultur, maka digunakan nutrisi hidroponik. Nutrisi ini adalah pupuk hidroponik lengkap yang mengadung semua unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman sebagai sumber makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. 

Instalasi hidroponik jenis inipun dapat menampung sekitar 48 tanaman per 30 cm² nya, bayangkan jika menanam dengan jumlah serupa diperlukan hingga beberapa meter persegi. Hidroponik vertikultur juga memiliki banyak kelebihan lain sehingga banyak para petani menerapkanya di daerah perkotaan (urban farming), diantaranya yaitu:
  • Mudah dipindah-pindah semau pemilikinya
  • Mampu mengurangi polusi udara disekitar tanaman hidroponik vertikulutur ini
  • Cocok untuk ditanam sayuran bagi yang memiliki lahan sempit
  • Memiliki nilai estetik yang tinggi
  • Lebih menghemat tempat
  • Lebih hemat nutrisi hidroponik
  • Lebih cepat panen daripada hidroponik konvensional

Tampak bahwa bercocok tanam dengan sistem yang satu ini sangat cocok untuk kamu terapkan, bahkan hasilnya dapat lebih banyak dibandingkan dengan hidroponik horizontal. Bahkan Perawatan hidroponik ini sangat mudah, karena tumbuhan, tanaman atau sayur-sayuran dapat tumbuh dengan mudah tanpa menggunakan tanah, hanya dengan talang air, botol-botol kemasan yang sudah tidak terpakai dan juga bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan seperti ember, baskom dan sebagainya (Satya dkk, 2017). 


Sejarah Hidroponik Vertikultur


Teknik ini berawal dari ide vertical garden yang dilontarkan oleh sebuah perusahaan benih di Swiss pada tahun 1944. Popularitas bertanam dengan dimensi vertikal ini selanjutnya berkembang pesat di negara Eropa yang beriklim subtropis. Awalnya, sistem vertikultur digunakan untuk memamerkan tanaman ditaman umum, kebun, atau didalam rumah kaca. 

Selain dibudidayakan dengan media tanam umum, teknik ini juga berkembang dengan mengadopsi cara pemberian hara bersamaan dengan air siraman melalui irigasi tetes (drip irigation) atau pengaliran secara kontinu (hidroponik). Selain itu, dapat juga digunakan beberapa teknik penanaman terbaru seperti sistem aeroponik atau sistem vertigo. Sistem aeroponik adalah pengabutan unsur hara ke arah sistem perakaran. Sistem vertigo adalah pertanian vertikal dengan menempatkan sumber unsur hara kearah sistem perakaran. Sistem vertigo adalah pertanian vertikal dengan menempatkan sumber unsur hara di atas dan mengalirkannya dengan sistem irigasi tetes melalui wadah tanam yang terintegrasi
secara vertikal.

Pada prinsipnya, cara vertikultur ini tidak berbeda dengan cara bercocok tanam di kebun atau di lahan datar. Perbedaan mendasar adalah dalam hal penggunaan lahan produksi tanaman. Teknik vertikultur memungkinkan dilakukan dalam luasan satu meter persegi untuk dapat ditanami dengan jumlah yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan penanaman di lahan mendatar. 

Teknik Pembuatan Hidroponik Veltikultur

Contoh salah satu wadah tanam dibuat dari dua batang bambu yang masingmasing panjangnya 120 cm, dengan pembagian 100 cm untuk wadah tanam dan 20 cm sisanya untuk ditanam ke tanah. Pada setiap bambu akan dibuat lubang tanam sebanyak 10 buah. Bambu dipilih yang batangnya paling besar, lalu dipotong sesuai dengan ukuran yang ditetapkan. Semakin bagus kualitas bambu, semakin lama masa pemakaiannya. 

Di bagian 20 cm terdapat ruas yang nantinya akan menjadi ruas terakhir dihitung dari atas. Semua ruas bambu kecuali yang terakhir dibobol dengan menggunakan linggis supaya keseluruhan ruang dalam bambu terbuka. Di bagian inilah nantinya media tanam ditempatkan. Untuk ruas terakhir tidak dibobol keseluruhan, melainkan hanya dibuat sejumlah lubang kecil dengan paku untuk sirkulasi air keluar wadah

Hidroponik Tower
Ilustrasi Hidroponik Tower


Selanjutnya dibuat lubang tanam di sepanjang bagian 100 cm dengan menggunakan bor listrik. Dapat juga menggunakan alat lain seperti pahat untuk membuat lubang. Lubang dibuat secara selang-seling pada keempat sisi bambu (asosiasikan permukaan bambu dengan bidang kotak). Pada dua sisi yang saling berhadapan terdapat masing-masing tiga lubang tanam, pada dua sisi lainnya masingmasing dua lubang tanam, sehingga didapatkan 10 lubang tanam secara keseluruhan. Setiap lubang berdiameter kira-kira 1,5 cm, sedangkan jarak antar lubang dibuat 30 cm

Tanaman yang dapat dibudidayakan dengan sistem ini adalah tanaman yang berukuran tidak terlalu besar seperti kangkung, kemangi, tomat, cabai, bayang, terung, sawi dan sebagainya. Salah satu yang populer ditanam dengan metode hidroponik adalah selada. Menurut Li dkk (2010) Salah satu produk hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi adala selada. Selada (Lactuca sativa L.) adalah tanaman sayuran yang banyak diproduksi dan dikonsumsi di dunia termasuk di Indonesia.

Berikut video tutorial yang mungkin bisa membantu dalam membuat tower hidroponik dari pipa paralon, checkt it out....



Dan perlu dikperhatikan untuk meletekan tanaman hidroponikmu dibawah pancaran matahari setidaknya 6 jam setiap hari. Pondasi yang berupa pipa paralog harus dibuat sekokoh mungkin agar tidak roboh akibat beban yang berat.

Segmen Pasar Hidroponik di Perkotaan

Pangsa pasar tanaman hidroponik di indonesia terus meningkat yang tadinya 10% menjadi 20%. Hal ini diiringi dengan kampanye hidup sehat yang marak di suarakan kemenkes. Permintaan tanaman hidroponik ini mayoritasi oleh daerah perkotaan, mulai dari rumah makan, rumah sakit, supermarket, pasar swalayan dan kafe sudah menjadi konsumen utama produk hidroponik ini. 


Tidak berhenti di dalam negeri saja, negara tetangga seperti singapura sering melakukan transaksi dalam kuota yang besar  untuk sayuran hidroponik ini. Tentu semua pangsa pasar ini akan sangat menguntungkanmu yang berada di perkotaan. Jika kamu punya koneksi yang luas dan jaringan pemasaran yang baik maka usaha hidroponikmu akan mudah berkembang. Alangkah baiknya jika kamu bergabaung dengan koperasi petani, cara ini merupakan cara yang efektif untuk menjual sayur hidroponikmu walau lubang tanam sayuran hidroponikmu masih dibawah 100.

Untuk dapat sukses menjual hasil panen hidroponikmu kamu harus benar-benar memperhatikan kualitas tanaman yang dihasilkan. Setidaknya ada beberapa standar yang harus dipenuhi, diantaranya yaitu:
  • daung segar dan tidak layu
  • bersih dari kotoran
  • akarnya bewarna putih
  • batang mengandung banyak air dan tidak rusak
  • teksturnya tidak keras
  • warna sayuran cerah 
  • berat minimal 150 gram/tanaman


Simpulan


Akhir kata, budidaya hidroponik di perkotaan nyatanya sangat menjanjikan walau lahan yang tersedia cenderung terbatas. Dengan diakali sistem hidroponik vertikal tadi kamu bisa bercocok tanam sayuran dan menjualnnya dengan harga yang lebih mahal dari sayuran biasa. Jika usaha hidroponikmu sudah memiliki nama maka kamu bisa menambah lubang tanammu hingga menstabiltkan rotasi tanam sehingga dapat menyuplai banyak tanaman dan stabil tentunya.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami Kuy....